Hari-hari di kampus selalu memiliki kejutan-kejutan baru untukku. Menghabiskan setiap detik berharga membuat kenangan baru. Terlebih ketika dia yang lama tak pernah kutemui datang lagi. Mengajakku makan siang bersama di kantin kampus. “Hai Key, apa kabar?” Tanyanya. “Baik kamu?” “Baik juga. Lama banget ya kita nggak ketemu. Hm tiga tahun?” Aku tersenyum kecil, “Ya, sejak kamu pindah ke Surabaya kan?” Ia mengangguk. Tampilannya sudah beda sekarang. Tubuhnya menjulang tinggi dengan kacamata bertengger di wajahnya. Rambutnya yang dulu selalu dipotong cepak kini muncul dengan potongan spike. “Iya. Kamu betah sekali ya di Bandung.” Jawabnya lagi. Bagaimana tidak betah, Bandung selalu menjadi tempat favoritku. Tempat dimana aku mengenalnya, menjadikannya teman paling dekat, teman tempatku mengeluhkan segala masalahku. Tiba-tiba teleponnya berdering kencang mengalunkan music instrument yang selalu disukainya sejak dulu. “Bentar ya Key. Halo?” Ia menjawab teleponnya s...
Kelas semakin membosankan saja. Presentasi dari teman-temanku hanya disambut anggukan kepala mengantuk. Bahkan ini sudah hampir lewat batas waktu kelas. Mahasiswa yang akan menggunakan kelas ini juga sudah menunggu di depan pintu. Entah apa yang dipikirkan oleh dosenku ini, bukannya segera membubarkan kelas tapi semakin banyak melemparkan pertanyaan mengenai presentasi. Tak lagi ikut mendengarkan, aku masukkan semua buku dan barangku ke dalam tas. Aku kenakan sweater biru navy -ku yang bertuliskan " Petrichor" lalu menyimpan ponsel ke dalam kantong. Aku sudah benar-benar siap untuk mengakhiri kelas. Betul saja, tak lama setelah itu dosenku membubarkan kelas kami. Naya segera mendekatiku untuk ke kantin bersama, "Ca! Ayo." Ia menarik tanganku cepat. Aku mengangguk, tapi percuma saja keluar cepat-cepat. Mulut pintu begitu sesak dengan mahasiswa yang keluar juga yang akan masuk. Begitu keluar kelas aku berjalan di koridor gedung bersama Naya sebelum akhirnya tubu...
Baru saja aku nge- scroll koleksi film-filmku, eh nemu film Thailand yang dulu pernah berhasil menumpahkan air mataku. Ya. Film "Crazy Little Thing Called Love". Film yang menceritakan tentang rasa kagum kepada kakak kelas (senior) yang sudah berlangsung cukup lama. Yang spesial dari film ini adalah ceritanya mirip kehidupanku. Mengagumi kakak kelas yang sudah berlangsung cukup lama. Kalau di film dia menyukai Shone (Tokoh lelakinya/kakak kelasnya) sudah tiga tahun lamanya. Wow. Jarang ada gadis yang bisa bertahan untuk pria yang mungkin belum tahu perasaan kita selama itu. Karena itu benar-benar sulit. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Nam. Karena nyatanya aku sudah mengagumi cowok itu sejak kelas 8. Dan sekarang? Aku sudah SMA, kelas 10. Aku tidak tahu juga bagaimana bisa aku menyukai orang selama itu. Aku tidak pernah berusaha mendekatinya. Dia juga tidak pernah merasakan keberadaanku. Mungkin aku hanya memperhatikannya dari kejauhan. Berpapasan ketik...
Comments
Post a Comment